Bapakku.. Itulah panggilan untuk seseorang yang sangat spesial dalam hidupku sedari aku kecil. Bapakku tidak tampan, terkesan galak dan malah menyeramkan (menurut beberapa teman lelakiku yang pernah menemuinya), tetapi Ia amat sangat tegas, sikap itulah yang aku sangat sukai darinya. Hampir setiap waktu aku menghabiskan waktu dengannya. Meskipun begitu, aku tidak begitu dekat dengannya, melebihi kedekatanku dengan Ibuku. Entah karena aku jarang mengobrol atau curhat tentang kehidupan pribadiku dengannya atau entah karena pemikiran perasaannya berbeda denganku. Aku lebih suka mengungkapkan segala problematika tentang percintaan kepada Ibuku. Namun meskipun begitu, aku sangat sayang sekali dengan beliau. Meskipun terkadang sangat sulit sekali mengutarakannya.

Seorang pencerita atau pendongeng masa dulu yang baik.

Di sepanjang perjalanan hidupku, Bapakku sangat senang mendongeng atau menceritakan kejadian masa penjajahan dulu kepada anak-anaknya. Ya, Bapakku lahir pada zaman penjajahan. Kira-kira 65 tahun yang lalu Bapakku lahir. Banyak sekali momen yang Ia alami saat itu bersama kedua orang tuanya. Kalau sedang kumpul keluarga, disela-sela obrolan pasti Bapakku ini ada saja topik untuk bercerita. Ia sangat bersemangat sekali kalau sedang bercerita, terlihat dari wajahnya yang sumringah. Ketika Ia bercerita, banyak sekali pengalaman-pengalaman pribadi Bapakku saat beliau masih kecil yang sangat berharga, unik dan bisa dijadikan bahan cerita nanti ketika anak-anaknya dewasa untuk diceritakan kembali kepada generasi selanjutnya. Ia selalu memperagakan kisah zaman dahulu dengan gerak gerik yang terkesan lucu, sehingga kami anak-anaknya yang mendengarkan tertawa geli melihatnya.



Seorang Ayah yang sangat pemilih.

Ya, dalam urusan kehidupan percintaanku, salah satu yang paling dominan adalah campur tangan Bapakku. Ia amat sangat selektif dalam hal percintaan anaknya. Saat aku mulai mengenal cinta kepada seorang pria, saat itu aku baru mulai memasuki jenjang perkuliahan. Aku berkenalan dengan seorang pria yang aku kenal dari temanku. Beberapa bulan kemudian, Aku mulai mengenalkannya kepada Bapakku. Memang setiap ada laki-laki yang sedang dekat denganku, selalu aku bawa ke rumah. Apabila Bapakku tidak menyukainya, keesokan harinya Ia akan bilang padaku dengan memberikan alasan Mengapa Ia tidak menyukai pria itu.

Kadang aku suka merasa kesal akan hal itu, di satu sisi aku sangat menyukai lelaki itu, di satu sisi lain Bapakku tidak menyukainya. Namun kekesalan itu tidak berujung lama, akupun menuruti keinginannya karena suatu hubungan apabila tidak di restui oleh kedua orang tua, maka tidak akan baik nantinya, Pepatah Bapakku inilah yang selalu aku ingat. Meskipun Ia sangat selektif dalam hal teman dekat anak perempuannya, aku tahu Ia amat sayang padaku. Ia tidak ingin anaknya disakiti oleh laki-laki lain yang menurutnya tidak baik untukku.

Ia menginginkan kelak suatu saat nanti apabila Ia sudah tidak mampu untuk menjaga aku, ada lelaki baik yang menggantikannya, yang sayang denganku bahkan dengan keluargaku dan bisa membahagiakanku. Bukan hanya sekedar mempermainkan anak perempuannya saja.

Ia yang sangat berpengaruh besar terhadap karirku

Dulu, saat pertama aku lulus dari perguruan tinggi, aku mulai mencari pekerjaan yang cocok dengan jurusan kuliahku. Mulai dari kirim lamaran via email, kantor pos atau mengantarkan surat lamaran langsung ke perusahaan yang dituju.  Hingga saatnya panggilan interview tiba. Saat itu, Bapakku adalah salah satu orang yang sangat bersemangat ketika mendengar aku mendapatkan telepon untuk interview kerja untuk pertama kalinya. Ia rela mengantarkan aku kemanapun tempat interviewnya.

Meskipun beberapa hasil interview ada yang gagal. Ia tidak pernah mengeluhkannya. Aku masih ingat percakapan kala itu saat aku gagal interview. Ia memberi nasehat seperti ini, ” Yang sabar neng, mati satu tumbuh seribu, satu gagal masih ada peluang-peluang lain menantimu!”. Ia tahu anaknya kala itu sedang rapuh hatinya, Ia mencoba menguatkanku agar aku tidak larut dalam kesedihan. Sampai pada akhirnya aku mendapat pekerjaan impianku itu semua berkat doa, dukungan, semangat dari Bapakku.

Memang tidak banyak yang dapat aku ceritakan tentang sosok Bapakku itu, namun Ia amat berkesan dalam kehidupanku. Ia sosok yang sangat sederhana namun indah di mataku. Seorang yang menjadi panutan dan pemimpin di keluargaku. Seseorang yang siap sedia melindungi anak-anaknya. Seseorang yang tidak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat untuk anak-anaknya. Ia adalah seorang pria spesial yang aku kenal selama hidupku yang mengajarkanku banyak hal tentang hidup.

Maafkan anakmu ini Pak, yang masih menjadi anak yang manja, anak yang selalu merepotkanmu meskipun aku sudah dewasa. Anak yang paling menjengkelkan, yang terkadang suka marah-marah dan membentakmu selepas pulang kerja karena capek. Anakmu ini masih tidak bisa sabar sesabar dirimu menghadapiku.

Bapakku, aku sangat amat menyanyangimu. Semoga Alloh senantiasa menjagamu dan memberikan umur yang panjang untukmu. Supaya aku bisa terus membahagiakanmu. Meskipun sampai saat ini aku belum bisa membalas semua hal baik yang telah engkau berikan dan korbankan untukku. Sehat terus ya Pak. Selamat Hari Ayah, Bapakku! I always love you more.

Share and Like This..
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 2
  •